Pro

Begini Cara Bima Fanggidaer Penuhi Kebutuhan Air Bersih Masyarakat Rote

Jakarta – Bakal calon Bupati Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Bima Fanggidae mengatakan bahwa sejak 15 tahun Kabupaten Rote menjadi daerah otonom, banyak persoalan masyarakat di sana belum juga terentaskan.

“Pengharapan masyarakat Rote ketika menjadi Kabupaten ini adalah perubahan. Tapi selama 15 tahun ini apakah ada perubahan?. Ya tentu ada, tapi perubahan itu kepada siapa,” kata Bima dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta Selatan, Sabtu (12/8/2017).

Beberapa sektor yang masih menjadi persoalan yang sangat berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat adalah keberadaan air, khususnya air bersih untuk kebutuhan hidup masyarakat sekitar. Padahal menurut Bima, 86 persen masyarakat Rote mengandalkan cocok tanam untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

“Permasalahannya adalah, 86% masyarakat (Rote) bercocok tanam, butuh air dan pupuk. Adalah kendala utama di Rote yaitu pengadaan air bersih. Masyarakat banyak yang tidak punya MCK (Mandi Cuci Kakus), karena memang tidak ada air bersih. Masyarakat harus beli air dengan rate harga Rp200.000/tangki,” tutur Bima.

Dan untuk pemenuhan air bersih di sana, Bima memandang masyarakat sangat kesulitan dengan harga yang dibandrol. Sementara pendapatan rata-rata masyarakat Rote tidak lebih dari Rp300 ribu per bulan.

“Pendapatan mereka tidak sampai Rp300 ribu. Kalau air saja Rp200 ribu, makan apa mereka,” tukasnya.

Salah satu persoalan inilah yang menurut Bima sangat mendorong dirinya untuk maju dalam bursa Pilbup Rote Ndao tahun 2018 mendatang. Keinginan besarnya adalah bisa memberikan kontribusi aktif dan nyata untuk pengadaan air bersih kepada masyarakat dengan cara yang lebih konkret.

Jika melihat dari struktur tanah di Rote yang merupakan mayoritas batu karang, sementara itu curah hujan di sana pun dikatakan Bima sangat rendah, maka solusi yang ia ingin terapkan adalah pengadaan sumur bor bagi masyarakat.

“Karena Rote ini tanahnya di dalamnya (batu) karang, kalau orang gali10 meter aja, bisa mati dia. Tentunya yang bisa dilakukan, yang pertama adalah pengadaan sumur bor,” pungkasnya.

Kemudian selain pengadaan sumur bor ini, Bima mengatakan bahwa untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat, bisa dilakukan dengan pengadaan mesin penyulingan air laut menjadi air tawar.

“Pengelolaan air laut menjadi air tawar,”imbuhnya.

Pun demikian, Bima pun menyadari bahwa biaya besar dibutuhkan untuk melakukan maintenance mesin penyulingan tersebut. Hanya saja, ia melihat justru inilah yang menjadi sektor bagi pemerintah untuk bisa memenuhinya.

Pengadaan mesin suling air ini menurutnya jauh lebih efektif ketimbang pengadaan embung (alat penampungan air), karena memang intensitas curah hujan di Kabupaten Rote terlalu minim, sehingga embung sangat tidak efektif.

“Karena biaya perawatan yang tinggi ketimbang menggunakan embung, karena suling air laut itu mesin bisa mudah karatan, sehingga saat ini support pemerintah juga tidak ada. Tapi ini penting untuk memenuhi kebutuhan air besih masyarakat, maka pemerintah harus turun tangan,” tegasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Independen Online Media of Indonesia brings the Latest News & Top Breaking headlines on Politics and Current Affairs in Indonesia & around the World, Sports, Business.

MERDESA ATAU MATI !!.

Copyright © 2017 Konspirasinews.com

To Top