Kontra

Warga dan Supir Angkot Keluhkan Aksi Buruh, Kapolda Siap Tindak Tegas Buruh Anarkis

buruh demo macetJakarta – Ribuan elemen buruh/pekerja kembali berencana menggelar demonstrasi dan mengancam mogok nasional terkait agar segera cabut PP 78/2015 soal Pengupahan di kawasan-kawasan industri seluruh daerah Indonesia, pada Selasa (10/11/2015) bertepatan dengan hari Pahlawan.

Merespons hal itu, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Tito Karnavian, mengingatkan agar massa buruh tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum dan upayakan pelaksanaan aksi dapat berjalan dengan damai dan tidak anarkis patuhi aturan hukum yang berlaku. Polisi pun tidak segan bertindak tegas jika ada oknum buruh yang bertindak anarkistis.

“Jangan sampai ada pelanggaran hukum. Jangan sampai terjadi hal-hal merugikan publik yang bertentangan undang-undang. Kalau itu terjadi, kami akan melakukan penegakan hukum,” ungkap Tito, Senin (9/11/2015).

Tito Karnavian mengingatkan pula agar pendemo tidak melakukan aksi sweeping dan memblokir jalan. Jajarannya juga akan melakukan tindakan hukum jika ada buruh yang terlibat aksi kekerasan dan pelanggaran lalu lintas.

“Ada di jalan melakukan pelanggaran lalu lintas atau naik di atas kap kendaraan, akan kami tilang,” ungkapnya.

Ia pun berharap, massa atau demonstran bisa bekerja sama dengan pihak keamanan agar aksi unjuk rasa berjalan dengan aman dan tertib.

“Karena itu, komunikasi antara teman-teman pekerja, polisi, dan aparat lainnya sangat diperlukan,” ucapnya.

Pernyataan Kapolda itu juga didukung dari elemen akademisi yakni alumnus S2 Universitas Islam As-Syafiiyah Agus Santhuso. Agus juga mengimbau para serikat buruh tidak melakukan ancaman yang merugikan masyarakat lain.

“Rencana buruh yang mengancam demo besar-besaran dan mogok nasional matiin kawasan industri di seluruh wilayah itu saya tidak benar. Apalagi pake acara mengancam,” ujarnya.

Menurut Agus yang juga dosen ini, karena kepentingan buruh tidak tidak bisa terpenuhi, lalu melakukan tindakan yang mengorbankan rakyat lebih banyak. Kalau semua pemenuhan kepentingan melalui ancaman, maka akan muncul ancaman-ancaman baru yang dapat merugikan kepentingan lebih umum.

“Kepentingan anda tidak bisa terpenuhi sedikit, jangan mengorbankan rakyat lebih banyak. Kalau semuanya pakai ancam mengancam. Ketika kepentingan kelompok atau golongannya nggak dapat, lalu mengancam yang lebih umum, saya kira itu namanya bukan hidup berbangsa dan bernegara. Semua itu ada solusinya,” jelasnya.

Ia pun mengimbau untuk menyampaikan aspirasinya, para buruh jangan mengeluarkan ancaman yang dapat merugikan masyarakat yang lebih besar. Mereka bisa menyampaikan petisi dalam aksi berdemo.

“Para buruh bisa demo menyampaikan petisi, bukan mengancam,” tuturnya.

Diketahui, ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja saat melakukan aksi mogok nasional kerap melakukan aksi sweaping disetiap pabrik dan melakukan pawai dijalanan.

Hal itu pun mendapat respon negatif dari sejumlah pengendara. Pasalnya, aksi pawai itu dianggap merugikan dengan membuat jalan protokol macet total, lantaran dipenuhi buruh yang menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.

Salah satunya adalah sopir angkot trayek dikawasan Bekasi, Joni (43) mengaku rugi dengan aksi yang dilakukan para buruh itu secara konvoi dijalanan.

“Namanya kita lagi usaha jadi terganggu. Karena selain bikin macet target setoran kita jadi hilang ketunda,” kata Joni.

Kerugian serupa juga dialami supir lainnya jika para buruh melakukan blokir sejumlah ruas jalan di trayek Kabupaten Tangerang. Aritonang, supir Angkot G 06 jurusan Tigaraksa-Cimone, mengatakan, pihaknya sangat mengeluhkan penghasilannya menyusut selama munculnya aksi demonstrasi buruh.

Biasanya, dia bisa narik angkotnya enam hingga tujuh rit dalam sehari. Namun, jika demonstrasi buruh kembali marak, maka penghasilannya berkurang sampai 70 persen.

“Beberapa hari ini, setoran nombok terus. Sedangkan, pemilik angkot gak mau tau,” katanya.

Sementara, imbuhnya, setiap aksi unjuk rasa yang dilakukan ribuan buruh tersebut selalu menutup akses jalan. Sehingga, kemacetan tak bisa di hindari.

“Sekarang saya cuma bisa narik sampai lampu merah Bojong-Tigaraksa saja. Itupun, sewanya gak ada,” ujarnya.

Sejumlah warga pengguna jalan juga mengeluhkannya.

“Kalau begini terus, bisa-bisa kami gak makan Pak,” ungkap Ucup, salah satu warga yang berprofesi sebagai pedagang kecil di Pasar Cikupa.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Independen Online Media of Indonesia brings the Latest News & Top Breaking headlines on Politics and Current Affairs in Indonesia & around the World, Sports, Business.

MERDESA ATAU MATI !!.

Copyright © 2017 Konspirasinews.com

To Top