Kontra

Buruh Dilema, Monas Terancam Gatot

Jakarta – Gerakan buruh terancam gagal total dalam usaha mereka melakukan agenda besar-besaran yakni mogok nasional (Monas) pada 24 s/d 27 November 2015.

Buruh disemprot water canonHal itu dikemukakan Ketua Umum Gerakan Manusia Pancasila (Gempa) Willy Prakarsa, Senin (23/11/2015).

“Monas buruh yang akan dilakukan besok terancam gagal total alias gatot,” tegas Willy Prakarsa.

Lebih lanjut, Aktivis 98 melihat kondisi buruh saat ini dalam posisi yang dilematis. Pasalnya, mereka juga harus merasakan dampaknya yakni konsekuensinya mendapatkan Surat Peringatan (SP) bahkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal itu yang tidak dipertimbangkan oleh para Serikat buruh.

“Bagi buruh yang ikut-ikutan demo dan mogok nasional, itu adalah buruh yang sudah malas-malasan bekerja,” cletuk dia.

Willy pun mengingatkan agar buruh dan pekerja tidak terpengaruh provokatif oleh pihak lain yang justru mengajak dan mendukung mogok kerja.

“Jangan terpengaruh hasutan pihak lain. Karena itu justru merugikan buruh itu sendiri,” ujarnya.

Willy pun mengusulkan agar para buruh dalam berjuang menyampaikan aspirasinya dapat menggunakan akal yang cerdas, manfaatkan media sosial sebagai wadah perjuangannya. Seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, Line, Instagram, dll. Aspirasi itupun bisa disampaikan langsung ke pemerintah pusat, parlemen, instansi yang dituju dan pemerintahan daerah.

Lebih jauh, Willy menegaskan buruh yang tidak sabaran dan melakukan aksi demonstrasi adalah makanan empuk buat para pimpinan Serikat Pekerja yang kerap melakukan bargaing position tanpa sepengetahuan buruh.

“Memanfaatkan media sosial adalah langkah cerdas, efisien, efektif, ekonomis dan jauh dari bentrokan aparat keamanan notabene sebagai aparat penegak hukum. Jadi tidak perlu mandi air hujar, water canon dan bentrokan dilapangan,” ujarnya.

Willy mengatakan tantangan buruh adalah perang dengan teknologi yakni menggunakan media sosial lebih efektif dan ekonomis.

“Gitu aja koq repot. Keprihatinan atas kepentingan buruh kadang sering dijadikan ajang rekreasi politik,” ucap dia.

Sementara itu, Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Putera Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta /Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI, sekaligus Anggota Dewan Pengupahan DKI Jakarta Sarman Simanjorang, meminta para buruh agar turut menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif di ibu kota Jakarta.

“Di tengah kondisi ekonomi kita yang sedang bergejolak, buruh demo dan mogok nasional kelihatannya kurang tepat dan makin menambah ketidakpercayaan para investor kepada kita,” tutur dia.

Seharusnya, kata Sarman, apabila ada aspirasi buruh yang ingin disampaikan kepada pemerintah, maka tidak perlu turun ke jalan karena akan mengganggu aktivitas perdagangan dan bisnis. Akan lebih baik jika aspirasi itu disampaikan melalui dialog atau dengan audiensi, sehingga lebih efektif dan terarah daripada harus melakukan aksi demonstrasi di jalan yang justru akan menurunkan produktivitas pekerja.

“Apabila belum puas terkait tuntutan-tuntutan tersebut maka perwakilan buruh melalui Serikat Pekerjanya dapat meneruskan aspirasi tersebut ke DPR dan DPD yang kita yakini mampu memperjuangkan aspirasi tersebut,” kata dia.

Sarman melanjutkan, sebaiknya para buruh meningkatkan kapasitasnya atau kinerjanya untuk perusahaan, jangan hanya menuntut saja.

“Dengan semakin kondusifnya perusahaan maka tuntutan-tuntutan dari para buruh yang dipandang realistis, diperkirakan perusahaan bisa melaksanakan kewajibannya,” imbuhnya.

Pemerhati ekonomi dan perburuhan Gigih juga menyoroti banyaknya pemberitaan profesi buruh yang menggambarkan bahwa buruh dan pekerja merupakan profesi yang tidak mengguntungkan. Dengan penghasilan yang rendah, mereka harus bekerja relatif lebih lama. Belum lagi persoalan tunjangan hidup seperti kesehatan dan pendidikan yang menambah panjang cerita kelam profesi seorang buruh. Alhasil, terkadang kaum buruh terjebak dalam posisi stagnan di kelasnya. Namun, kata Gigih, perlu diketahui banyak orang sukses berasal dari kondisi tidak mengenakkan.

“Menjadi seorang buruh bukan berarti jauh dari kesuksesan. Kunci kesuksesan adalah bagaimana cara seorang bekerja apakah ia bekerja keras atau cerdas,” terangnya.

Dikatakan Gigih, kebanyakan kaum buruh terjebak dalam rutinitas yang mengantarkan dirinya pada cara bekerja keras dibandingkan dengan kerja cerdas. Definisi kerja keras adalah bekerja dengan mengerah waktu dan tenaga secara maksimal untuk mencapai hasil maksimal. Sedangkan kerja cerdas adalah bekerja dengan mengerahkan waktu dan tenaga secara efisien untuk mencapai hasil maksimal.

“Sudah seharusnya kaum buruh bekerja cerdas untuk bisa bangkit dari keterpurukan yang senantiasa membelenggu kehidupannya dari kebahagiaan. Tanpa bekerja dengan cerdas, kaum buruh akan terus menjadi komoditas politik untuk kepentingan tertentu,” kata dia lagi.

Alhasil, sambung dia, kaum buruh sendiri justru mendapatkan kerugian akibat ulah “dalang-dalang” politik perburuhan. Liat saja, hingga saat ini jumlah serikat buruh terus bertambah namun apakah kesejahteraan buruh juga berkorelasi positif terhadap fenomena tersebut?

Saat bekerja, seorang buruh sudah memiliki spesialisasi dan durasi waktu yang telah ditetapkan oleh perusahan. Misalkan seorang buruh linting rokok, maka apa yang dikerjakannya pasti seputar pelintingan rokok untuk waktu yang telah ditetapkan setiap harinya.

Oleh karena itu, tambah dia, untuk bisa bekerja cerdas, seorang buruh harus mampu mengoptimalkan kekuatan yang dimilikinya yakni creativity power dan leverage power. Creativity power atau kekuatan kreatifitas adalah kemampuan daya imajinasi atau ide untuk menemukan sebuah ritme kerja atau cara bekerja terbaik.

“Hambatan untuk meningkatkan kemampuan ini adalah tidak adanya semangat inovasi karena rutinitas pekerjaan yang sudah dirasa nyaman,” ujar dia lagi.

Selain itu, kata dia, para buruh cenderung terhambat dalam hal mengakses informasi sehingga wawasan berpikir tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Oleh karena itu, pemikiran buruh harus lebih terbuka dan berwawasan.

“Kekuatan yang kedua adalah leverage power atau disebut juga daya ungkit. Kemampuan ini ibarat mengangkat sebuah batu besar dari bawah ke atas, kita akan lebih mudah jika menggunakan katrol dari pada harus naik turun tangga sambil membawa beban berat. Seseorang buruh harus mampu mempelajari dan memetakan faktor eksternal disekitarnya yang mampu memberikan daya ungkit untuk meningkatkan kesejahteraannya,” jelasnya.

Gigih mencontohkan, memanfaatkan waktu istirahat yang disediakan untuk meningkatkan kualitas diri dengan membaca atau hal lain yang berguna. Tentu dengan kemampuan kreatif, maka faktor ekternal yang ada pasti dapat menjadi daya ungkit yang luar biasa.

“Buruh tidak lagi harus bekerja keras namun harus juga mengkombinasikan dengan konsep bekerja cerdas sehingga kesejahteraan yang selama ini dirasakan dapat berubah dan tidak lagi menjadi komoditas para “dalang-dalang” politik kepentingan tertentu. Karena semua berhak sukses atas kemampuannya sendiri,” tandasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Independen Online Media of Indonesia brings the Latest News & Top Breaking headlines on Politics and Current Affairs in Indonesia & around the World, Sports, Business.

MERDESA ATAU MATI !!.

Copyright © 2017 Konspirasinews.com

To Top