Pro

Ada Konspirasi Politikkah Dibalik Gerakan Buruh dan Lembaga yang Aktif Belah Buruh

Buruh blokir jalan tol

Buruh blokir jalan tol

Jakarta – Ribuan elemen buruh tergabung dalam Komite Aksi Upah-Gerakan Buruh Indonesia (KAU-GBI) kembali berencana turun kejalan untuk menyuarakan aspirasinya ke Gedung DPR RI meminta agar dibentuk pansus upah dan pada tanggal 10 Desember, menyambangi Mahkamah Agung (MA) menyerahkan Judicial Review (JR) PP No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

Padahal sebelumnya, pada tanggal 24-27 November 2015 pekan kemarin buruh menggelar aksi mogok nasional. Namun dalam pelaksanaannya, para buruh justru menghadapi situasi yang dilema karena aksi mogok nasional tahun ini terbilang gagal total tak seperti tahun sebelumnya 2011-2013 yang berhasil dengan gerakan Hapus Outsourching dan Tolak Upah Murah (Hostum) serta Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS).

Nampak sekali, diberbagai daerah kawasan industri terlihat melempem, bahkan Kabupaten Bekasi yang pusat Omah Boeroeh justru masive tanpa ada gaungnya.

Rencana aksi lanjutan itu pun kembali mendapatkan kritikan sejumlah pihak diantaranya dari Forum Betawi Rempug (FBR). Anggota FBR DKI Robert menduga ada kepentingan asing dan mendapatkan dana asing karena terlalu menekan pemerintahan.

“Ada kemungkinan ya dapat dana asing. Bisa juga ada pihak asing yang sengaja nyusup di tuntutan buruh tersebut,” ungkap Robert, Kamis (3/12/2015).

Lebih lanjut, Robert pun mencurigai dengan lembaga yang aktif membela buruh dalam melakukan gerakan-gerakan. Ia mencontohkan LBH Jakarta yang disinyalir untuk mencuri momentum.

“Ada apa dengan LBH Jakarta ini. Dengan mencuri momentum terlihat pro aktif membela buruh. Dan nampak memberikan panggung kepada pihak asing, apakah ada pelicin kah. Jangan-jangan ini ada konspirasi politik,” tuturnya.

Robert pun berpandangan permintaan buruh agar DPR RI membentuk pansus upah terlihat ada politisasi dibalik itu. “Apakah mereka meminta Pansus upah dengan minta jatah jabatan. Gimana nih,” bebernya.

Tak hanya itu, kata Robert, oposisi politik sepertinya ikut bermain untuk memelihara konflik buruh dengan pemerintah. Ia pun berharap agar mahasiswa dan akademisi untuk tidak tergiring mendukung buruh yang sudah terlanjur tergiring masuk dalam pusaran politik.

“Kasihan kaum buruh diperalat untuk kepentingan pimpinan serikatnya,” cletuknya.

Robert pun menyadarkan pendapatan gaji buruh yang dianggap sudah lebih dari cukup. Kata dia, gaji buruh sudah mencapai 3 juta, itu buruh pertama baru kerja sedangkan buruh yang sudah lama kerja gajinya lebih dari itu.

“Standar minimal lho,” ucapnya.

Sementara itu, Aktivis 98 Willy Prakarsa membeberkan bobroknya gagalnya mogok nasional buruh kemarin. Aksi mogok nasional yang dinilai melempem itu dilatar belakangi dari faktor internal buruh hingga eksternal buruh itu sendiri.

Dari bagian internal ada beberapa poin diantaranya, buruh sendiri justru tidak memahami kenapa PP Pengupahan itu harus dicabut, pengurus serikat pekerja kurang cerdas menjelaskan kepada anggotanya.

“Dan juga ada buruh yang dahulu memilih Jokowi sebagai Presiden, ketimbang Prabowo. Mereka yang memilih Jokowi itu merasa segan untuk ikut terlalu jauh karena walau bagaimanapun, PP 78 itu dibuat oleh orang yang mereka pilih,” jelasnya.

Willy melanjutkan, poin penting lagi penyebab kegagalan mogok nasional salah satunya adalah adanya elit buruh sebagai penumpang gelap. Elit penumpang gelap, pimpinan serikat buruh ini menunggangi aksi massa buruh besar bukan murni membela buruh, tetapi punya kepentingan pribadi.

Misalnya, kata dia, mereka ada ambisi pribadi demi diberi jabatan kursi Komisaris di pemerintahan. Mereka rela dibeli sama pemerintah. Padahal, menurut kacamata buruh sendiri, pimpinan Serikat buruh ini kecil estimasi pengikutnya. Namun, karena dia bisa bergabung kemana-mana dengan serikat buruh besar seperti KSPI, maka bargaining posisinya jadi makin tinggi.

“Orang-orang seperti ini sangat mudah diliat. Dia hadir pada saat konferensi pers, tapi pada saat aksi tidak kelihatan batang hidungnya. Kalaupun kelihatan di aksi, dia hanya mencari wartawan untuk diwawancara saja, setelah itu menghilang entah kemana. Jika kita telaah coba cek saja pada tanggal 30 Oktober kemarin di Istana, hanya Sekjen KSPI Muhammad Rusdi yang masih tetap bertahan, sementara yang lainnya ngabur entah kemana,” paparnya.

Beredar kabar di telinga para aktivis buruh dan bawahan-bawahan buruh, berembus ternyata dua tokoh buruh inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab mogok nasional kurang berhasil. Isunya keduanya mendapatkan posisi jabatan di pemerintahan Jokowi yaitu pimpinan buruh ada yang mendapat posisi Komisaris BUMN, dan satunya mendapatkan posisi di PT Pos Indonesia.

“Kedua tokoh ini lah nampak tidak terlihat serius memberi dukungan bagi anggota buruhnya untuk bergerak melakukan mogok nasional,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Independen Online Media of Indonesia brings the Latest News & Top Breaking headlines on Politics and Current Affairs in Indonesia & around the World, Sports, Business.

MERDESA ATAU MATI !!.

Copyright © 2017 Konspirasinews.com

To Top