Kontra

Said Iqbal Sedang Memainkan Jurus Mabuknya

Jakarta – Rencana aksi turun kejalan oleh kelompok buruh bertepatan dengan momentum hari ham sedunia yang jatuh pada 10 Desember, tak henti-hentinya mendapatkan respon negatif oleh sejumlah pihak. Pasalnya, buruh akan menyerahkan Judicial Review (JR) Peraturan Pemerintah (PP) No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan ke Mahkamah Agung (MA) dengan diikuti ribuan buruh.

Beberapa pihak menilai bahwa agenda buruh disaat momentum ham tersebut jelas tidak ada kaitannya antara isu ham dan perburuhan.

“Apa kaitannya demo buruh dengan momentum hari ham. Buruh jangan mau didomplengin pihak-pihak tak bertanggung jawab dengan meramaikan peringatan ham,” ujar pengamat hukum Rio Verieza, SH.

Hal itu mengemuka saat diskusi publik bertema “Jangan politisasi tema mulia hari Ham sedunia demi konflik PP No. 78 th 2015 (Pengupahan)” di Kafe Oey Jl. Cempaka Putih Raya Jakpus, Selasa (8/12/2015).

Turut hadir narasumber lainnya Sekjen Barisan Insan Muda (Bima) Syarief Hidayatullah, dan Wasekjen Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) Monalisa Pangabean.

Lebih lanjut, Rio menyarankan agar buruh tak perlu demo disaat menyerahkan JR PP Pengupahan di MA. Sebab, Rio khawatir ada pihak yang sengaja mempolitisir demo buruh bertepatan hari ham itu.

“Hari ham adalah hari yang mulia jangan dipolitisir. Karena tidak ada relevansinya momentum hari ham dengan tuntutan buruh ini. Kalau soal ham ya buruh adukan saja ke komnas ham. Buruh tidak perlu turun kejalan sehingga stabilitas ekonomi tidak terganggu dan tidak bikin gaduh,” beber Rio.

Hal senada juga diutarakan, Wasekjen Jari 98 Monalisa Pangabean bahwa korelasi ham dan tuntutan buruh jelas tidak ada disini. Karena tidak ditemukan tindakan pengusaha yang dianggap melanggar ham.

“Buktinya hari ini banyak serikat buruh, dan bertahun-tahun tambah mengakar. Artinya kebebasan pengusaha sudah diberikan untuk berserikat dan berkumpul. Anggota buruh jangan mau dibodoh-bodohi. Buruh juga selama ini tidak disuruh kerja rodi,” tuturnya.

Willy Prakarsa bersama Jari 98Mona pun menantang Presiden KSPI Said Iqbal untuk berdebat soal berserikat dan berkumpul. “Harusnya Said Iqbal ada disini. Dia harus tahu soal arti berserikat dan berkumpul serta paham arti Kemanusian yang adil dan beradab,” ucapnya.

Mona juga menolak jika anggota buruh di eksploitasi oleh pimpinan buruhnya. Ia juga jenuh mendengar tuntutan PP 78 yang terus-terusan dihembuskan oleh buruh. Padahal masalah krusial lainnya tidak hanya bicara buruh saja, tapi masih banyak problem lainnya yang mendasar di kehidupan masyarakat.

“PP 78 jangan menjadi persoalan penting. Apakah kemerdekaan kita selama 70 tahun ini hanya untuk dihabiskan bicara soal PP 78 saja,” ujarnya.

Diketahui, hari ini kelompok buruh kembali berunjuk rasa didua tempat Gedung DPR RI dan Gedung KPK. Didepan Gedung DPR, buruh mendesak agar segera dibentuk pansus upah. Sementara di KPK, buruh justru menyoroti isu lain yakni penuntasan skandal papa minta saham Freeport yang kini sudah ditangani Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Barisan Insan Muda (Bima) memandang apa yang disuarakan buruh saat ini layaknya gado-gado karena kepentingan apapun dicaplok semua.

“Sepertinya apa yang disuarakan buruh menjadi gado-gado karena kepentingan apapun dicaplok semua. Freeport ini sudah masuk ranah politik, jangan mau jadi gado-gado tuntutannya. Dan hari ini buruh tuntutannya menjadi berubah-ubah,” papar Syarief.

Lebih jauh, Syarief lagi-lagi mengimbau agar buruh tidak terjebak pada kepentingan oleh pihak ketiga.

“Ini ada problem yang sangat krusial karena buruh sudah menjadi salah satu kendaraan-kendaraan kepentingan politik. Seharusnya buruh menyampaikan haknya yang menjadi perjuangan bersama,” kritiknya.

Ia pun berharap agar buruh menggunakan cara-cara cerdasnya tanpa harus melakukan kegiatan yang merugikan hak-hak orang lain, apalagi melakukan tutup jalan / tol.

“Gunakan cara-cara cerdas sehingga kepentingan pabrik dan ekonomi bisa berjalan,” imbuhnya.

Syarief melanjutkan bahwa apa yang dilakukan Said Iqbal kadang-kadang keblinger. Perlu dipertanyakan apa yang dilakukan Said Iqbal, karena meminta bantuan Warga Negara lain dalam menyelesaikan dan memperjuangkan demo-demo buruh di Indonesia.

“Ini patut dipertanyakan, harusnya itu cinta pada bangsanya. Kedatangan perwakilan organisasi buruh dari Jepang memperjuangkan demo-demo buruh ke Indonesia perlu dipertanyakan lagi. Karena menyangkut harkat dan martabat bangsa,” kata dia lagi.

Mona mempertanyakan disaat gerakan demo buruh didepan Istana waktu lalu, Said Iqbal nampak menghilang disaat buruh harus berhadapan dengan buruh lainnya.

“Said Iqbal sedang memainkan jurus mabuknya. Buruh bentrok dengan aparat sementara dia serah terima jabatan menjadi anggota ILO,” tukasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Independen Online Media of Indonesia brings the Latest News & Top Breaking headlines on Politics and Current Affairs in Indonesia & around the World, Sports, Business.

MERDESA ATAU MATI !!.

Copyright © 2017 Konspirasinews.com

To Top