Kontra

Memalukan, Jika Aib Sejarah Bangsa Disebar ke Dunia Internasional

Diskusi HamJakarta – Tepat tanggal 10 Desember diperingati hari hak asasi manusia (ham) sedunia, dan sejumlah pegiat ham pun ikut meramaikannya. Namun, sebuah kritikan juga muncul dari kalangan mahasiswa.

Presidium Lembaga Kajian Hukum Indonesia (LKHI) Rio Verieza mengakui bahwa di Indonesia masih kerap banyak kasus-kasus pelanggaran ham yang belum dituntaskan. Namun, kata dia, didalam negeri sendiri kasus ham sudah ada lembaga ham yang menanganinya yaitu Komnas ham. Akan tetapi penegakan ham di Indonesia masih belum tegas.

“Komnas ham masih belum mampu menuntaskan kasus-kasus pelanggaran ham di Indonesia,” kata Rio saat bincang-bincang menyambut hari HAM dengan tema ‘Jangan Bawa Permasalahan HAM Ke Luar Negeri, Mari Kita Tuntaskan Di Dalam Negeri Sendiri’ diinisiasi Lembaga Kajian Hukum Indonesia (LKHI) di Sop Kondro Karebosi, Kelapa Gading Jakarta Utara, Kamis (10/12/2015).

Rio pun mendorong agar Komnas ham lebih berani dan peka menyelesaikan semua pelanggaran ham di Indonesia. Dan ia khawatir jika kasus-kasus ham di Indonesia itu dimanfaatkan oleh kepentingan asing.

“Kami meminta agar kasus-kasus ham di Indonesia tidak dibawa ke luar negeri,” kata Rio.

Rio menambahkan bahwa tidak seharusnya orang-orang yang menganggap sebagai korban pelanggaran ham masa lalu itu membawa sejarahnya ke dunia internasional, seperti halnya Pengadilan rakyat beberapa waktu lalu.

“Negara ini kan ibaratnya keluarga aja ya. Jangan kita itu menyebarkan aib keluarga kita ke orang lain. Itu memalukan,” jelasnya.

Hal senada juga diutarakan mahasiswa hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) Romario Josua agar permasalahan ham tidak perlu dibawa-bawa ke luar negeri. Sebab, kata dia, masalah itu justru menjadi tak kunjung selesai dan makin dimanfaatkan oleh kepentingan asing.

“Malah kita justru dirugikan,” ucapnya.

Romario berharap agar bangsa Indonesia tetap menumbuhkan rasa nasionalismenya dan jangan mau di kambing hitamkan oleh asing.

“Jangan mau kita dipermalukan oleh bangsa sendiri. Selesaikan saja masalah ini didalam negeri sendiri sesuai dengan UU yang berlaku. Stop intervensi asing dalam kasus ham,” ujarnya.
Aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Carlos Wawo sependapat agar kajian-kajian soal ham dapat diselesaikan dinegeri sendiri bisa terus dilakukan, agar tidak ikut-ikutan terbawa arus demokrasi kebablasan.

Sementara Mahasiswa Universitas Islam Jakarta (UIJ) Furqon menyebutkan bahwa isu ham sudah disalahartikan oleh segelintir pihak di era di demokrasi ini.

“Sudah banyak kepentingan-kepentingan asing yang masuk didalam ham ini. Sebaiknya permasalahan ham ini lebih baik diurus didalam negeri sendiri, ini pun bisa juga membuat rasa nasionalisme kita semua terjaga,” beber dia.

Dalam kesempatan yang sama Presidium Amalan Rakyat Frans Freddy justru menyoroti isu aksi turun ke jalan oleh sekelompok buruh dengan memanfaatkan agenda ham. Frans menilai demo buruh dengan ham tidak ada kaitannya.

“Janganlah dibawa-bawa ke ranah ham, ini kan rule nya sudah beda jauh, yang berarti sudah masuk di ranah politik, janganlah dikait-kait kan ke masalah ham segala. Berpikir lebih cerdas,” kritiknya.

Ditempat yang sama, Ketua Senat Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta Taufik melanjutkan implementasi dari Pancasila adalah cara yang benar untuk bagaimana lebih memahami penegakan ham di indonesia. Permasalan ham sudah di jelaskan di dalam UUD 45 bahwa Indonesia menyatakan sikap melawan penindasan, sehingga ditegaskan tidak perlunya permasalahan ham dibawa ke luar negeri atau pihak asing.

“Di konstitusi kita ditegaskan bahwa tidak perlu permasalahan ham dibawa ke luar negeri atau pihak asing,” tukasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Independen Online Media of Indonesia brings the Latest News & Top Breaking headlines on Politics and Current Affairs in Indonesia & around the World, Sports, Business.

MERDESA ATAU MATI !!.

Copyright © 2017 Konspirasinews.com

To Top