Pro

Percayalah Pemerintah Indonesia Sangat Serius Perhatikan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Aktivis Papua 2Jakarta – Sejumlah kalangan kembali menyayangkan sikap aktivis Papua yang justru memanas-manasi dan memprovokasi generasi mudanya untuk membuat semacam perlawanan kepada pemerintah yang kini sedang berjuang mensejahterahkan masyarakat di tanah Papua.

Ketua Komunitas Masyarakat Pecinta-Kedamaian Indonesia Hakiki (KMP-KIH) Fadly Zein mengingatkan kepada aktivis-aktivis Papua lainnya untuk tidak tertipu bujuk rayu para aktivis oportunis OPM dari negara-negara lainnya. Fadly menilai Papua itu bukan daerah konflik, justru Papua kini adalah daerah yang justru membutuhkan sentuhan dan peran aktif seperti yang sedang dilaksanakan melalui program program peningkatan kesejahteraan di era Jokowi sekarang ini.

“Yang perlu dipertanyakan oleh kita justru kenapa kebanyakan aktivis Papua ikut memanas-manasi generasi mudanya untuk membuat semacam perlawanan kepada pemerintah yang sedang mensejahterakan masyarakat Papua,” tegas Fadly, Senin (14/12/2015).

Padahal, kata Fadly, banyak kasus aktivis yang kerap tertipu petinggi-petinggi dinegara lainnya kasus penipuan dan propaganda dalam rangka mencari korban-korban sudah lama terjadi di Papua, karena banyak pemuda, mahasiswa dan pelajar di Papua serta Papua Barat yang kurang memahami sejarah bangsa Indonesia ataupun kurang memahami pelaksanaan Pepera seringkali
menjadi radikal dan kurang berpikir rasional, sehingga mudah menjadi korban propaganda OPM ataupun pihak lainnya.

Fadly pun mencontohkan aktivis Papua yang menjadi korban penipuan diantaranya AP adalah nama salah seorang aktivis asal Papua yang tergabung dalam kelompok 43 yaitu sebuah kelompok yang disponsori oleh aktivis Organisasi Papua Merde (OPM), HW untuk meminta suaka politik ke Australia pada tahun 2006, telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara selama 6 tahun pada akhir April 2014. Sebelumnya, AP ditahan di penjara Federal Metropolitan Remain Center di Victoria dengan tuduhan kasus “penggarongan yang agresif (aggressive burglary), breaking and entering (merusak dan memasuki), insiden penyerangan (incident assault), kejahatan seksual dan pencurian yang dilakukan AP pada 31 Oktober 2012.

Hal serupa juga dialami oleh Nicolaas Jouwe. Lelaki kelahiran Jayapura, Papua pada 24 November 1923 ini dikenal sebagai satu-satunya orang yang mendesain bendera Bintang Kejora, dan ketika saat muda Nicolaas Jouwe untuk berhasil ditaklukan oleh bujuk rayu Belanda untuk melawan Indonesia. Namun, akhirnya lelaki ini menyadari kekeliruannya yang diawali dengan
menyimak pidato Bung Karno pada Sidang Umum PBB berjudul “To Build the New World” pada 30 September 1960. Menurut Nicolaas Jouwe, pelariannya ke Belanda merupakan pilihan yang patut disesali. Namun, kini saya menyadari bahwa Papua merupakan bagian integral dari NKRI. Keputusan Nicolaas : “Saya kembali ke Indonesia”. Nicolaas yakin bersama pemerintah Indonesia, ia bisa ikut membantu membangun dan menyejahterakan masyarakat dan rakyat Papua.

Menurut Nicolaas Jouwe, saya melihat bahwa “Perhatian pemerintah Indonesia dan kondisi politik sudah berbeda terhadap Papua. Setelah melihat sendiri perkembangan tahap demi tahap, saya akhirnya percaya bahwa Pemerintah Indonesia sangat serius memperhatikan kesejahteraan masyarakat Papua” (tertulis dalam buku karangan Nicolaas Jouwe berjudul Kembali ke Indonesia : Langkah, Pemikiran dan Keinginan pada halaman xvii).

Aktivis PapuaSeperti AP, Nicolaas Jouwe diawal-awal sikap politiknya yang membela Belanda karena ditipu hendak dijadikan Presiden jika Papua merdeka, sehingga menyebabkan Nicolaas Jouwe menyadarinya bahwa pilihannya untuk tetap memperjuangkan Papua Merdeka adalah pilihan yang salah.

“Dari testimoni dan ungkapan penyesalah para aktivis Papua itu mungkin bisa membuat sadar para aktivis Papua lainnya bahwa dirinya telah menjadi korban propaganda pihak-pihak tertentu. Ini agar jadi pembelajaran aktivis Papua agar semakin sadar dan cintai tanah air Indonesia,” tegas Fadly.

Sementara itu, Sekjen Jaringan Aktivis ’98 Ir. Arwandi menduga tingkah dan pola para aktivis Papua saat ini ada agenda terselubung dan sengaja menghasut agar Papua tetap terlihat tidak kondusif.

“Kalau terus menerus seperti ini justru akan merugikan aktivis dan generasi muda Papua itu sendiri, karena semakin hari masyarakat Papua semakin cerdas dan akan mempertanyakan kenapa segelintir orang yang menamakan aktivis perjuangan Papua justru menentang dan menyudutkan pihak yang sedang membangun dan mensejahterakan kehidupan di Papua,” beber Arwandi.

Dikatakan Arwandi, sekarang ini semua serba transparan dan terukur, jadi Gubernur pun tidak bisa lagi main-main dengan menggandeng kelompok kriminal bersenjata sebagai modus untuk menutup nutupi penyimpangan di pemerintahannya. Dulu pernah ada rumor kalau tim penegakan hukum atas kasus korupsi seperti KPK datang ke Papua maka akan ada peristiwa penembakan untuk menakut-nakuti agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mundur, sekarang sudah tidak jamannya lagi seperti itu, publik sudah tahu modus modus semacam itu.

“Silahkan coba saja seperti itu terus kalau tidak ingin berakhir di jeruji besi,” tuturnya.

Arwandi melanjutkan hal yang keliru jika menuduh pemerintahan Jokowi tidak serius menangani kesejahteraan masyarakat papua dan persoalan HAM Papua. Ia pun berharap perwakilan Papua yang duduk sebagai Komisioner Komnas Ham Natalius Pigay untuk bersikap objektif menilai langkah positif Jokowi di tanah Papua selama ini.

“Harus jujur konflik di Papua tidak terlepas dari provokasi aktivis Papua yang selalu hembuskan permusuhan,” tukasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Independen Online Media of Indonesia brings the Latest News & Top Breaking headlines on Politics and Current Affairs in Indonesia & around the World, Sports, Business.

MERDESA ATAU MATI !!.

Copyright © 2017 Konspirasinews.com

To Top